Pemeliharaan Berbagai Jenis Plafon

Pemeliharaan Berbagai Jenis Plafon

Pemeliharaan dan perawatan komponen bangunan sangat diperlukan, demi menjaga keutuhan bagian komponen dari bangunan tersebut ataupun keindahanya. Pemeliharaan plafon sebagai salah satu item bangunan menjadi

Read More »

Arsitektonis Bangunan

Di postingan ini akan menjelasakan 3 (tiga) bab yang berkaitan dengan arsitektonis bangunan. Untuk bab yang pertama akan dijelasakan “rencana kota”, yang kedua “syarat-syarat lingkungan

Read More »

Fungsi dan Pengendalian Inventory Dalam Industri Manufacture

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn


PPIC-Fungsi dan Pengendalian Inventory Dalam Perencanaan Produksi dan Industri Manufacture

Inventory adalah idle resources (sumberdaya mengganggur)
yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud proses lebih lanjut tersebut
misalnya adalah kegiatan produksi pada sistem manufaktur.

Telah diketahui bahwa mengelola
inventory dengan baik sangat penting. Pada satu sisi, sebuah perusahaan dapat
mengurangi biaya dengan mengurangi inventory. Pada sisi lain, produksi dapat
terhenti, dan customer menjadi tidak puas ketika pesanannya tidak tersedia.
Oleh karena itu, perusahaan harus dapat mengatur keseimbangan antara investasi
inventory dan customer service. Strategi biaya rendah tidak akan dapat dicapai
tanpa manajemen inventory yang baik.

Pada kasus produk fisik, organisasi
harus menentukan apakah akan memproduksi barang-barang atau hanya membeli.
Setelah keputusan ini dibuat, langkah berikutnya adalah meramalkan demand,
seperti yang telah dibahas. Kemudian perlu ditentukan inventory yang diperlukan
untuk memenuhi demand tersebut. Dua permasalahan pokok inventory: berapa banyak
order dan kapan waktu ordering dilakukan.

Beberapa fungsi inventory adalah 

1.  Untuk
melakukan “decouple” atau memisahkan beragam bagian proses produksi
. è Contoh – jika inventory sebuah
perusahaan berfluktuasi, maka mungkin diperlukan inventory tambahan untuk
melakukan decouple proses produksi dari para pemasok.

2. Untuk
melakukan decouple perusahaan dari fluktuasi demand dan menyediakan inventory
barang-barang yang memberikan pilihan bagi customer
. è Conoth – umumnya terjadi industri
distribusi / retail.

3.      Untuk
mengambil keuntungan quantity discount
,
sebab pembelian dalam jumlah lebih besar dapat mengurangi biaya produksi atau
pengiriman barang.

4.      Untuk
menjaga pengaruh inflasi

dan naiknya price.

Jenis-Jenis Inventory

Untuk mengakomodasi fungsi
inventory, perusahaan memiliki beberapa jenis inventory:

·        
Raw material inventory (bahan baku)
merupakan input awal dari proses transformasi menjadi bentuk jadi. Raw material inventory dibeli tetapi
tidak diproses. Inventory ini dapat digunakan untuk decouple (yaitu,
memisahkan) para pemasok dari proses produksi. Bagaimanapun, pendekatan yang
lebih disukai adalah menghapuskan keragaman kualitas, quantity atau waktu
pengiriman pemasok sedemikian rupa sehingga pemisahan tidak lagi diperlukan.

·        
Work-in-process (WIP) inventory
(barang setengah jadi) yang merupakan bentuk peralihan antara bahan baku dengan
produk setengah jadi. Work-in-process
(WIP) inventory (WIP)
adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami
beberapa perubahan tetapi belum selesai. Adanya WIP disebabkan oleh waktu yang
dibutuhkan untuk membuat sebuah produk (yang disebut cycle time [siklus
waktu]). Mengurangi siklus waktu berarti mengurangi inventory. Seringkali tugas
ini mudah: Selama sebagian besar waktu sebuah produk “sedang dibuat” pada
kenyatannya, produk tersebut tidak mengalami proses apapun. Waktu pekerjaan
yang sebenarnya atau waktu “run” hanyalah sebagian kecil dari waktu
aliran material, mungkin hanya 5%.

·        
Maintenance / repair / operating
(MRO) inventory (pemeliharaan / perbaikan / operasi) . MRO adalah inventory
yang diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan, dan operasi yang
diperlukan untuk menjaga agar permesinan dan proses produksi tetap produktif. MRO
tetap ada karena kebutuhan dan waktu pemeliharaan dan perbaikan beberapa
peralatan tidak diketahui. Walaupun demand inventory MRO sering merupakan
sebuah fungsi jadwal pemeliharaan, demand MRO lain yang tidak dijadwalkan harus
diantisipasi.

·        
finished goods inventory (barang
jadi) yang merupakan hasil akhir proses transformasi yang siap dipasarkan
kepada konsumen. Finished goods
inventory
adalah produk yang sudah selesai dan menunggu pengiriman. Barang
jadi mungkin disimpan karena demand customer di masa masa depan tidak
diketahui.
 

Inventory pada Sistem Manufaktur

Masalah inventory pada sistem
manufaktur lebih rumit bila dibandingkan dengan masalah pada sistem non
manufaktur. Pada sistem manufaktur, ada hubungan langsung antara tingkat
inventory, jadwal produksi, dan demand konsumen. Oleh karena itu, perencanaan
dan pengendalian persediaannya harus terintegrasi dengan peramalan demand,
jadwal induk produksi, dan pengendalian produksi. Selain kondisi di atas,
sistem manufaktur mempunyai beberapa bentuk inventory, yaitu raw material
inventory, barang setengah jadi dan barang jadi.

Masalah utama raw material inventory
adalah menentukan berapa jumlah ordering yang ekonomis (Economic Order
Quantity) yang akan menjawab persoalan berapa jumlah bahan baku dan kapan bahan
baku itu dipesan sehingga dapat meminimasi ordering cost dan holding cost.

Termasuk pengembangan masalah dalam
inventory adalah raw material inventory berupa komponen tertentu yang
diproduksi secara massal dan dapat dipakai sendiri sebagai sub-komponen suatu
produk jadi oleh suatu perusahaan. Dalam hal tersebut, komponen harus dibuat
lebih dahulu dengan  kecepatan produksi
yang tetap, kemudian digunakan dalam proses produksi lebih lanjut. Laju
pemakaian komponen itu diasumsikan lebih rendah dari laju kecepatan produksi
komponen sehingga menghasilkan keputusan berapa jumlah lot yang harus
diproduksi sehingga meminimasi biaya total inventory dan biaya produksi. Model
tersebut dikenal dengan sebutan model Economic Production Quantity (EPQ) atau
Production Order Quantity (POQ) atau Economic Lot Size (ELS).

Work-in-process (WIP) inventory
merupakan pengaman antara 2 proses. Jika produk akhir diproduksi melalui suatu
lintasan produksi, maka cadangan pengaman merupakan tindakan berjaga-jaga
terhadap kerusakan suatu mesin dalam lintasan tersebut.

pengeluaran
dan kerugian yang timbul sebagai akibat adanya inventory. Biaya sistem
inventory terdiri atas biaya pembelian, ordering cost, holding cost dan biaya
kekurangan inventory. Berikut tersebut akan diuraikan masing-masing komponen
biaya tersebut.

Purchasing Cost = c
(Biaya Pembelian)

Biaya
pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang. Besarnya biaya
pembelian tersebut bergantung kepada jumlah barang yang dibeli dan price satuan
barang. Biaya pembelian menjadi faktor penting ketika price barang yang dibeli
bergantung kepada ukuran pembelian. Situasi tersebut akan diistilahkan sebagai quantity discount atau price break di mana price barang per
unit akan turun bila jumlah barang yang dibeli meningkat. Dalam kebanyakan
teori inventory, komponen biaya pembelian tidak dimasukkan kedalam total biaya
sistem inventory karena diasumsikan bahwa price barang per unit tidak
dipengaruhi oleh jumlah barang yang dibeli sehingga komponen biaya pembelian
untuk periode waktu tertentu (misalnya satu tahun) konstan dan hal tersebut
tidak akan mempengaruhi jawaban optimal tentang berapa banyak barang yang harus
dipesan.

Procurement Cost (Biaya Pengadaan)

Biaya pengadaan dibedakan atas 2 jenis
sesuai asal-usul barang, yaitu ordering cost (biaya pemesanan) bila barang yang diperlukan diperoleh dari
supplier (pihak luar) dan setup cost
(biaya pembuatan) bila barang diperoleh dengan memproduksi sendiri.

·        
Ordering cost = S (Biaya
Pemesanan)

Ordering
cost adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar.
Biaya tersebut meliputi biaya untuk menentukan pemasok (supplier), pengetikan order,
pengiriman order, biaya pengangkutan, biaya penerimaan dan seterusnya. Biaya
tersebut diasumsikan konstan untuk setiap kali pesan.

·        
Setup cost = S (Biaya
Pembuatan)

Biaya pembuatan
adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang.
Biaya tersebut timbul di dalam pabrik yang meliputi biaya menyusun peralatan
produksi, menyetel mesin, mempersiapkan gambar kerja dan seterusnya.

Karena kedua biaya tersebut mempunyai
peran yang sama, yaitu pengadaan barang, maka kedua biaya tersebut disebut
sebagai biaya pengadaan (procurement cost).

Holding cost / Carrying Cost = H (Biaya Penyimpanan)

Holding
cost adalah semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan barang. Biaya
tersebut meliputi :

·        
Capital
Cost (Biaya Memiliki Inventory / biaya modal)

Penumpukan barang digudang berarti
penumpukan modal, di mana modal perusahaan mempunyai biaya (expense) yang dapat diukur dengan suku
bunga bank. Oleh karena itu, biaya yang ditimbulkan karena memiliki inventory
harus diperhitungkan dalam biaya sistem inventory. Biaya memiliki inventory
diukur sebagai persentase nilai inventory untuk periode waktu tertentu.

·        
Warehouse
Cost (Biaya Gudang)

Barang yang disimpan memerlukan tempat
penyimpanan sehingga timbul biaya gudang. Bila gudang dan peralatannya disewa,
maka biaya gudangnya merupakan biaya sewa sedangkan bila perusahaan mempunyai
gudang sendiri maka biaya gudang merupakan biaya
depresiasi.

·        
Pilfirage and Shrinkage Costs (Biaya Kehilangan/Kerusakan
dan Penyusutan)

Barang yang disimpan dapat mengalami
kerusakan dan penyusutan karena beratnya berkurang ataupun jumlahnya berkurang
karena hilang. Biaya kerusakan dan penyusutan biasanya diukur dari pengalaman
sesuai dengan presentasenya.

·        
Obsolescence Cost (Biaya
Kadaluwarsa)

Barang
yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai karena perubahan teknologi dan
model.
è
Contoh – barang-barang elektronik. Biaya kadaluwarsa biasanya diukur dengan
besarnya penurunan nilai jual dari barang tersebut.

·        
Insurance Cost (Biaya
Asuransi)

Barang
yang disimpan diasuransikan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.
è Contoh – kebakaran. Biaya asuransi
bergantung pada jenis barang yang diasuransikan dan perjanjian dengan
perusahaan asuransi.

·        
Administration and Moving
Costs (Biaya Administrasi dan Pemindahan)

Biaya
tersebut dikeluarkan untuk mengadministrasikan inventory barang yang ada, baik
pada saat ordering, penerimaan barang, dan penyimpanannya termasuk biaya
memindahkan barang dari, ke, dan di dalam tempat penyimpanan, upah buruh, dan
biaya peralatan handling.

Dalam manajemen
inventory, terutama yang berhubungan dengan masalah kuantitatif, biaya simpan
per unit diasumsikan linier terhadap jumlah barang yang disimpan (
è contoh – USD/unit/tahun).

·        
 Shortage Cost (Biaya Kekurangan Inventory)

Bila
perusahaan kehabisan barang pada saat ada demand, maka akan terjadi keadaan
kekurangan inventory. Keadaan tersebut akan menimbulkan kerugian karena proses
produksi akan terganggu dan kehilangan kesempatan mendapat keuntungan atau
kehilangan konsumen customer karena kecewa sehingga beralih ke tempat lain.
Biaya kekurangan inventory dapat diukur dari:

·        
Quantity yang tidak dapat
dipenuhi

Biasanya
diukur dari keuntungan yang hilang karena tidak dapat memenuhi demand atau dari
kerugian akibat terhentinya proses produksi. Kondisi tersebut diistilahkan
sebagai biaya penalty (p) atau hukuman kerugian bagi perusahaan dengan satuan.
è Contoh – USD/unit.

·        
Waktu pemenuhan

Lamanya
gudang kosong berarti lamanya proses produksi terhenti atau lamanya perusahaan
tidak mendapatkan keuntungan, sehingga waktu menganggur tersebut dapat
diartikan sebagai uang yang hilang. Biaya waktu pemenuhan diukur berdasarkan
waktu yang diperlukan untuk memenuhi gudang dengan satuan misalnya.
è Contoh – USD/satuan waktu.

·        
Biaya pengadaan darurat

Supaya
konsumen tidak kecewa maka dapat dilakukan pengadaan darurat yang biasanya
menimbulkan biaya yang lebih besar dari pengadaan normal. Kelebihan biaya
dibandingkan pengadaan normal tersebut dapat dijadikan ukuran untuk menentukan
biaya kekurangan inventory dengan satuan.
è Contoh  – USD/setiap kali kekurangan.

Kadang-kadang biaya tersebut disebut
juga biaya kesempatan (opportunity cost).

Ada perbedaan pengertian antara biaya
inventory actual yang dihitung secara akuntansi dengan biaya inventory yang
digunakan dalam menentukan kebijakan inventory. Biaya inventory yang
diperhitungkan dalam penentuan kebijakan inventory hanyalah biaya-biaya yang
bersifat variabel (incremental cost),
sedangkan biaya yang bersifat fixed seperti
biaya pembelian tidak akan mempengaruhi hasil optimal yang diperoleh sehingga
tidak perlu diperhitungkan.

Komponen pada Sistem Inventory

Akan diuji dua komponen sistem
inventory: (1) bagaimana inventory dapat digolongkan (yang disebut analisis ABC) dan (2) seberapa akurat
catatan inventory dapat dipertahankan. Kemudian akan diperlihatkan pengendalian
inventory pada sektor jasa.

Analisis ABC

Analisis ABC membagi inventory yang
dimiliki ke dalam tiga golongan berdasarkan pada volume dollar tahunan.
Analisis ABC adalah sebuah aplikasi inventory dari Prinsip Pareto. Prinsip
Pareto menyatakan terdapat “sedikit hal yang penting dan banyak hal yang
sepele.” Gagasannya adalah menetapkan kebijakan inventory yang memusatkan
sumberdaya pada komponen inventory penting
yang sedikit
dan bukan pada yang banyak tapi sepele. Tidaklah realistis
untuk memonitor inventory yang murah dengan intensitas yang sama sebagaimana
dengan inventory yang sangat mahal.

Metoda
Pengendalian Inventory

Dalam mencari jawaban atas
permasalahan umum dalam pengendalian inventory seperti yang diuraikan
sebelumnya, secara kronologis metoda pengendalian inventory yang ada dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:

·        
Metode pengendalian tradisional

·        
Metode perencanaan kebutuhan
material (MRP)

·        
Metode kanban

Metode Pengendalian tradisional menggunakan matematika dan
statistik sebagai alat bantu utama dalam memecahkan masalah kuantitatif dalam
sistem inventory. Pada dasarnya, metode tersebut berusaha mencari jawaban
optimal dalam menentukan:

·        
Jumlah ukuran ordering ekonomis (EOQ)

·        
Titik ordering kembali (Reorder point)

·        
Jumlah cadangan pengaman (safety stock) yang diperlukan

Metode tersebut sering juga disebut metode pengendalian tradisional karena memberi dasar
lahirnya metode baru yang lebih modern
seperti MRP di Amerika dan Kanban di Jepang.

Metode pengendalian inventory secara statistik biasanya
digunakan untuk mengendalikan barang yang demandnya bersifat bebas (dependent) dan dikelola secara saling
tidak bergantung. Yang dimaksud demand bebas adalah demand yang hanya
dipengaruhi mekanisme pasar sehingga bebas dari fungsi operasi produksi.
Sebagai contoh adalah demand untuk barang jadi dan suku cadang pengganti (spare part).

Ditinjau dari sejarah perkembangannya, metode tersebut
secara formal diperkenalkan oleh Wilson (1929)
dengan mencoba mencari jawaban 2 pertanyaan dasar, yaitu :

·        
Berapa jumlah barang yang harus
dipesan untuk setiap kali ordering ?

·        
Kapan saat ordering harus dilakukan
?

Pengembangan formula Wilson
kemudian dilakukan pada keadaan yang lebih realistik, terutama untuk
fenomena yang bersifat probablilistik. Hal tersebut kemudian memunculkan 2
metode dasar pengendalian inventory yang bersifat probabilistik, yaitu :

·        
Metode P yang menganut aturan bahwa saat
ordering bersifat reguler mengikuti suatu periode yang tetap (mingguan,
bulanan, dan sebagainya), sedangkan quantity ordering akan berulang-ulang.

·        
Metode Q, yang menganut aturan bahwa jumlah
ukuran ordering (quantity ordering) selalu tetap untuk setiap kali ordering,
sehingga waktu saat ordering dilakukan akan bervariasi.

Model Inventory

Sekarang akan diuji berbagai model
inventory dan biaya-biaya yang berkaitan dengan model inventory.

Independent versus dependent demand

Model pengendalian inventory
menggunakan asumsi bahwa demand untuk sebuah item mungkin dependent atau
independent dengan demand item lain.
è Contoh – Pada perusahaan industri peralatan rumahtangga,
demand kulkas independent dengan
demand pemanggang roti. Bagaimanapun, demand untuk komponen pemanggang roti dependent dengan kebutuhan pemanggang
roti.

Model
Inventory untuk Independent Demand

Terdapat beberapa model inventory
yang menjawab dua pertanyaan penting: kapan
akan dipesan
dan berapa banyak yang
dipesan
.

·        
Model economic order quantity, EOQ

·        
Model economic production quantity,
EPQ / production order quantity, POQ.

·        
Model quantity discount.

Post Disclaimer

The information contained in this post is for general information purposes only. The information is provided by Fungsi dan Pengendalian Inventory Dalam Industri Manufacture and while we endeavour to keep the information up to date and correct, we make no representations or warranties of any kind, express or implied, about the completeness, accuracy, reliability, suitability or availability with respect to the website or the information, products, services, or related graphics contained on the post for any purpose. - PT Tapanuli Logistik Cargo

Baca Juga  Gudang Cross Dock

More to explorer

Pemeliharaan Berbagai Jenis Plafon

Pemeliharaan Berbagai Jenis Plafon

Pemeliharaan dan perawatan komponen bangunan sangat diperlukan, demi menjaga keutuhan bagian komponen dari bangunan tersebut ataupun keindahanya. Pemeliharaan plafon sebagai salah satu

Tinggalkan Komentar

PT Tapanuli Logistik Cargo